Beranda > Lintas Otomotif > Bertarung Dengan Alam

Bertarung Dengan Alam

Masih ingat kan postingan saya sebelumnya? Saya ingatkan sekali lagi bahwa tulisan artikel saya sebelumnya yaitu tentang Ban Dalam Garuk Tanah. Dan kali ini saya akan menulis tentang Bertarung Dengan Alam. Apa maksudnya? Untul lebih jelasnya silahkan anda langsung membacanya saja.

Gelaran GP250 di sirkuit Sachsenring , Jerman berlangsung sangat complicated. Pembalap tak hanya bertarung melawan rider lainnya. Tapi juga berkelahi melawan alam. Siapa yang berhasil, dialah yang naik podium dan mendulang angka.

Balap baru berjalan 1 lap, tapi bendera merah sudah dikibarkan. Pertanda balap dihentikan karena hujan. Tak sedikit rider tergelincir menyium aspal. Race pun ditunda. Balap yang sedianya berlangsung 29 lap pun dipangkas menjadi 19 putaran.

Di waktu yang kurang dari setengah jam inilah pambalap harus bertarung dengan alam. Piawai atau tidaknya menjinakkan gejala alam, berbuntut pada pemilihan ban, serta seting suspensi yang tepat.

Nah, masalahnya, saat itu, langit Jerman memang susah ditebak. Hingga race akan dimulai, cuaca masih au akh gelap. “Saat hujan turun dan bendera merah dikibarkan , saya kembali ke paddock. Saya tunggu beberapa saat ternyata, rintik air masih turun. Makanya saya putuskan memakai ban basah. Tapi ketika motor saya bawa ke grid start, eh ternyata lintasan kering,” buka Shoya Tomizawa dari team CIP Honda.

Alhasil, Shoyapun keteteran. Akhirnya ke paddock mengganti ban slick. “Saya kehilangan waktu 10 detik.” Shoya pun dikalahkan alam.

Simoncelli bukan pawang hujan. Bukan pula peramal cuaca. Tapi pembalap Gilera ini mampu mengaalahkan alam. Kendati rintik hujan masih turun diatap depan paddocknya, tapi dia kekeh memakai ban slick di kedua roda motor-nya.

Padahal, mayoritas pembalap memakai ban hujan. Tindakan Simoncelli diikuti Hector Barbera, Alvaro Bautista dan Hiroshi Aoyama yang start di grid 2 sampai 4.

Begitu balap kembali dimulai, langit berangsur cerah. Lintasan pun makin mengering. Pemakai ban slick melaju tanpa kendala. Sementara pemakai ban basah, satu per satu tumbang.

Kepiawaiannya bertarung dengan alam, membawanya kepada kejelian memilih ban. Hal ini juga mengantarkan Simoncelli naik ke podium pertama untuk kedua kalinya di musim 2009 ini. Hal ini sekaligus mendongkrak posisinya menjadi urutan ke-4 di urutan klasemen sementara pembalap.

Satu fakta lagi terungkap. Gara-gara alam juga Aprilia tak bisa menghapus paceklik podium pertama di sirkuit kebanggaan warga Jerman ini.

Data menunjukan bahwa Aprilia terakhir menjuarai GP Jerman pada 2002 yang dicetak oleh Marco Melandri.

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca yang telah menyempatkan waktunya untuk berkunjung sapu jagat blog, semoga anda tidak bosan-bosan untuk berkunjung ke situs saya.

Demikian informasi dari saya tentang Bertarung Dengan Alam yang dapat saya sampaikan, semoga berguna dan dapat menambah pengetahuan.

Kategori:Lintas Otomotif
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: