Beranda > Lintas Otomotif > Kejurnas Motocross

Kejurnas Motocross

Pada postingan saya sebelumnya, saya menulis artikel tentang Perkembangan Aplikasi Motor Hidrogen, kali ini saya akan menulis tentang kejurnas motocross. Semoga anda menemukan informasi yang anda cari di sapu jagat blog situs kesayangan anda ini, selamat membaca.

KIS yang bukan acara infotainment yang kontroversial. yang ini KIS alias Kartu Izin Start di motocross yang memang kontroversi. Terutama KIS internasional. KIS ini menuai protes di kejurnas moto-x seri dua di Jember, Jawa Timur. KIS model internasional dianggap pemaksaan, mengada-ada. Hanya membebani tim kecil dan peserta perorangan yang kantongnya pas-pasan.

Mereka belum berpikir go-internasional. Lha, wong, masih belajar. Boro-boro untuk bayar KIS macam itu, ikut kejurnas saja sudah syukur.” Ini kan titelnya kejurnas, bukan internasional. Jika jauh-jauh hari, event ini murni masuk agenda FIM, gak masalah.

Peserta pasyi siap,” protes Daniel Tangka saat pertemuan antara promotor, PP IMI dan crosser di Jember kemarin. Tangka adalah mantan tracker era 90-an yang sekarang punya tim Jagung MX di Malang, Jawa Timur.

Lagian, aslinya event di Jember kemarin sebagai kejurnas nasional seri II. Crosser nasional, ya, mempergunakan KIS nasional.” Datangnya crosser bule alias luar negeri, itu bisa-bisanya promotor meramaikan acara. Label internasional hanya buatan promotor. Bukan agenda resmi FIM atau PP IMI,” protes Herry Budi Karyawan.

Mantan manajer motor sports Yamaha itu, di seri dua mengantar anaknya bermain SE 85 cc. Sesampainya di tempat, dia diminta membayar Rp 500.000.”Anak saya lolos QTT kejurnas saja cukup. Tidak ada rencana ikut kelas internasional. Jadi, untuk apa bikin KIS internasional?” tambah Herry BK-begitu dia sering disapa sambil bertanya.

Pembuatan KIS internasional di Jember memang seperti ‘ditodong’. Peserta SE 85 dan SE 125 mau gak mau, harus merogoh kocek.”Seperti mau bertanding ke luar negeri saja ya. Kan pakai KIS internasional saya bayar Rp 500.000,” kata Engkus Maulana yang anaknya ikut SE 85.

A Judiarto selaku promotor dari Lightning Production (LP), mengaku tidak tahu menahu.”Urusan KIS, adalah urusan PP IMI. Lihat saja, yang menagih uang KIS bukan orang LP. Silahkan tanya pada juri lomba. Mereka yang lebih tahu. Ini bukan urusan promotor,”tegas Judiarto yang selalu berpenampilan kinclong itu.

Rulianto katam yang bertugas sebagai juri di Jember, mengaku hanya menjalankan tugas.”Saya hanya ditugasi. Menurut aturan seperti ini, ya, saya bekerja seperti ini. Semuanya sesuai aturan,” kata Rulianto yang mengaku akan membawa personal ini pada rapat komisi motocross di PP IMI.

Fans Tanujaya yang mengurus Biro Olah Raga Motor PP IMI sama saja. Juga triping, maksudnya geleng kepala. Dia masih berjanji akan membawanya ke rapat komisi motocross di PP IMI.”Kaputusannya dari rapat bersama,” jawab Fans saat pertemuan antara crosser, promotor dan IMI di Jember.

Toddy Andries juga heran. Bagi sesepuh balap garuk tanah dan cakar aspal ini, KIS internasional tergantung peserta. “Jika peserta mampu bersaing di internasional, dia boleh mengurus KIS. Jika targetnya hanya nasional, sah saja diya memakai KIS nasional. Mestinya sih gak ada pesan,” saran Toddy dari pinggir sirkuit.

Demikian informasi dari saya tentang kejurnas motocross yang dapat saya sampaikan, semoga berguna dan dapat menambah pengetahuan bagi yang membacanya.

Kategori:Lintas Otomotif
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: