Beranda > Lintas Otomotif > Toleransi Modifikasi

Toleransi Modifikasi

Selamat datang di sapu jagat blog, Sering dengar istilah DFF alias design follow function? Estetika dalam desain memang harus fungsionaldemi keamanan juga ergonomi ideal. Banyak yang salah persepsi jika desai dan fungsi harus saling bertentangan. Malah ada anggapan, jika berani meng-custom ekstrem kita wajib ngalahin kenyamanan, fungsi apalagi keamanan.

Untuk sebagian customizer, hal ini memang di anut. Tapi sejatinya anggapan ini seharusnya mulai ditinggalkan. Tidak setuju kalau estetika harus mengalahkan keamanan dan kenyamanan. Mereka harus berbarengan dan itu jadi tolak ukur builder baik atau tidak, “buka Lutut’LT’ Wahyudi, modifikator Retro Classic Cycles Jogja.

Disisi lain toleransi, mengalahkan keamanan dan kenyamanan demi estetika memang kerap terjadi. Yang perlu digaris bawahi, sampai mana batas toleransi itu? Soalnya jika kelewat toleran, motor menjadi nggak ridiable. Sang rider harus berani menanggung resiko celaka di jalanan. Pabrikan nggak bisa menghalangi orang memodifikasi, tapi kami punya tanggung jawab untik memberi informasi toleransi modifikasi agar tetap aman, tambah Muhamad Abidin, Manger Technical Department Service Devision, PT Yamaha Motor Kencang Indonesia (YMKI).

Para builder punya tanggung jawab moral menjelaskan secara transparan kliennya agar tetap gaya tapi aman. Klien kerap minta yang aneh. Ia mencontohkan pemakaian pelek ukuran 5,5 inci sampai 6 inci. Otomatis bannya gede, di angka 190/55/17, malah di atas 180, urai Yustinis Erwan Santoso, builder dari Insan Motor Jakarta.

Kelemahan saat riding pastinya banyak. Tarikan berat dan ngeden. Ini bukannya tak mengundang masalah. Dalam beberapa kasus, las-lasan nggak buat bikin gir depan ngelos, as gir bengkok karena kelebihan beban, jelas Iyus.

Selain ban, pilihan Yeni lewat pemanjangan lengan ayaun juga dilakoni. Di dunia choppers juga streetfighter sampai gaya low rider kalangan komunitas skubek, lelaku ini kerap dilakoni. Problem ban dan wheel base kepanjangan tentunya dialami chopperis. Malah mereka kadang mengalami problem lain semisal hitungan trail berkaitan dengan rake dan strech tak standar pabrikan.

Soalnya mereka kerap membuat sendiri sasis dari nol. Handling motor jadi berat dan tidak stabil, sayang, hitungan detainya tidak dipaparkan karena bersifat rahasia dapur.

Tapi prinsipnya, sudut kemudi alias treil ini memiliki kondisi minus, plus dan ideal. Minus berarti titik komstir di belakang titik poros roda. Plus kebalikannya, titik komstir ada di depan titik poros roda, sedang ideal, sama dengan plus namun jaraknya ideal yakni antara 50-100 mm. Jadi hati-hatilah saat memodifikasi motor kesayangan anda!

Demikian informasi dari saya tentang toleransi modifikasi yang bisa saya sampaikan, semoga berguna dan dapat menambah pengetahuan bagi yang membacanya. Info ini saya ambil dari sini.

Kategori:Lintas Otomotif
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: