Beranda > Update > Maret Berpotensi Terjadi Deflasi

Maret Berpotensi Terjadi Deflasi

Penurunan harga kebutuhan pokok yang mulai terjadi bulan ini diperkirakan akan menekan laju inflasi Maret, bahkan diproyeksikan akan terjadi deflasi. Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, Maret ini harga beras sudah turun 1,6% dibandingkan pekan lalu. Penurunan ini masih karena puncak panen belum terjadi. ”Harga berbagai komoditas pangan mulai mengalami penurunan,mungkin bulan ini bisa terjadi deflasi,” kata dia seusai rapat Koordinasi Ketahanan Pangan di Kantor Menko Perekonomian di Jakarta kemarin.

Menurut dia,di samping panen raya padi, komoditas tebu juga segera memasuki musim giling atau produksi. ”Minggu ketiga Maret sudah masuk musim giling. Sekitar pertengahan April gula lokal sudah akan masuk pasar,”kata Bayu. Selain beras dan gula, harga berbagai komoditas pangan lain seperti terigu, daging sapi, bawang, dan cabai juga mengalami penurunan.”

Hanya harga daging ayam yang naik hampir 20%, tapi tidak masalah karena harga sebelumnya sangat rendah,”ujarnya. Penurunan harga inilah, menurut Bayu, mungkin bisa menyebabkan deflasi. ”Kalau deflasi benar-benar terjadi, ini bisa mengurangi angka inflasi secara keseluruhan tahun ini,”tutur Bayu. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan menyatakan hal senada.

Seiring masa panen di sejumlah daerah, harga kebutuhan pokok bisa turun. Deflasi bisa terjadi sebelum awal Maret. ”Kalau penurunan harga ini terus terjadi, ada potensi terjadi deflasi Maret,”ujarnya kemarin. Rusman mengatakan, BPS tetap akan memantau dan memperhatikan harga-harga komoditas yang diperkirakan mulai turun pekan kedua hingga keempat Maret.

Untuk perkembangan minggu ini kita laporkan dalam rapat koordinasi karena harga beras mulai turun drastis. Dan ada beberapa bahan pokok yang punya peran dalam inflasi mengalami penurunan, menurut informasi yang Type Approval Indonesia dapatkan. Inflasi Februari tahun ini mencapai 0,30% angka ini menurun jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,84%.

Hingga saat ini inflasi kumulatif Januari–Februari mencapai 1,14%,dan secara tahunan (year on year) 3,81%. Februari masih terjadi inflasi karena belum ada panen yang berarti sehingga memengaruhi psikologis pasar. BPS mencatat, komponen inti mengalami inflasi 0,15% sehingga laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Februari) sebesar 0,74%, dan secara tahunan 3,88%.

Pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam menilai deflasi sulit terjadi pada Maret ini.”Kalau saya lihat sekarang, tidak ada faktor penunjang dan pendukung bagi kita untuk bisa deflasi. Karena faktor supply dan demand tidak memadai kita untuk deflasi bulan Maret ini,”katanya. Ketidakyakinan ini, menurut Latief, bisa dilihat dari tingkat inflasi selama Februari dan Januari.

”Kalau inflasi Februari 0,30% tidak akan mungkin terjadi deflasi, paling-paling inflasi menjadi 0,4% masih masuk akal,”tambahnya. Menurutnya, tren 10 tahun terakhir sekitar 42% inflasi disumbang oleh bahan pangan khususnya beras. ”Februari kemarin harga beras masih tinggi walaupun turun dibandingkan bulan sebelumnya, tapi tidak akan sampai membuat deflasi,”tambahnya.

Operasi Pasar

Di sisi lain, pemerintah akan mengurangi kegiatan operasi pasar (OP) beras di beberapa daerah seiring harganya yang relatif stabil.”OP sangat selektif walau di Maluku masih diadakan OP. Namun, hari-hari terakhir tidak ada OP karena mulai memasuki masa panen,” kata Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso.

Menurut dia, saat ini harga tertinggi beras masih terjadi di daerah Medan dan sekitarnya yang mencapai Rp6.000 per kg. Namun, harga beras sudah mulai turun di beberapa daerah karena mulai memasuki masa panen. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, harga beras mulai pertengahan Februari hingga awal Maret 2010 sudah menunjukkan penurunan.

”Pada minggu pertama sudah mulai turun, minus 2%. Pada Januari naik sampai pertengahan Februari, lalu mulai turun, sedangkan Februari– Maret sudah turun beberapa persen karena kita sudah mulai masuk masa panen,”ujarnya.

Menurut Mari, stabilnya harga beras juga disebabkan oleh distribusi pasokan beras operasi pasar dan beras miskin dari Bulog yang berjalan lancar. Bulog mulai melakukan operasi pasar beras pada pertengahan Januari di 10 daerah yang sebelumnya mengalami krisis harga beras seperti DKI Jakarta, Yogyakarta, NTB, Maluku, dan Sumatera Selatan.

Iklan
Kategori:Update
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: