Beranda > Update > Pelaku Perdagangan Manuasia Tertangkap

Pelaku Perdagangan Manuasia Tertangkap

Lima pelaku perdagangan manusia (trafficking), kemarin ditangkap jajaran Polres Klaten, Jateng. Empat orang menjadi pengguna, seorang lainnya sebagai perantara. Korbannya, seorang siswi Kelas III SMP berinisial WEP, 15, warga Kecamatan Delanggu. Sejauh ini, korban sudah melayani nafsu bejat empat orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka tersebut. Keempat tersangka tersebut masing-masing bernama Supriyanto alias Kecer, 41,Setyo Basuki, 37, Edi Suwito, 25, dan Permadi alias Mencep,43.  Sementara itu, yang menjadi perantara dalam kasus tersebut bernama Martha Dinatha, 21. Kasus ini bermula dari pertemanan antara Martha dengan korban. Mereka saling mengenal karena korban adalah teman dari pacar Martha. Kepada Martha, WEP mengaku ingin melakukan perawatan diri dan meluruskan rambut ke salon, tapi tidak mempunyai uang. Kemudian, Martha membawa WEP ke salah seorang temannya yang bersedia memberi uang asal WEP mau diajak berkencan.

Aksi jual beli perempuan belia berlanjut, hingga diketahui WEP telah berkencan dan melakukan hubungan suami istri dengan empat orang laki-laki. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Klaten AKP Edy Suranta Sitepu mengaku terus berusaha membongkar kemungkinan korban-korban lain yang mengalami hal serupa. Kewaspadaan terhadap tindak pidana perdagangan orang di Klaten, cukup tinggi, mengingat kasus serupa sudah berulang kali terjadi. Dalam setiap transaksi, korban diberi uang antara Rp70 ribu–Rp100 ribu sebagai imbalan. Sebelum berkencan, korban terlebih dahulu diajak makanmakan layaknya orang berpacaran. Setelah itu, korban dibawa ke hotel atau rumah salah satu tersangka.

Di tempat inilah mereka melakukan hubungan seksual. Tercatat, hotel yang mereka gunakan berada di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten dan di Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. WEP dijual kepada Supriyanto pada tanggal 4 Maret lalu dengan tarif Rp100.000. Setelah itu, dijual kepada Setyo, Edi dan Permadi. “Para tersangka dikenai dengan Pasal 2 Ayat 2 Undang-Undang (UU) Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancamannya adalah 12 tahun penjara,” tandas Suranta. Martha berkilah, korban melakukan perbuatan tersebut tanpa bujukan dari siapa pun. Awalnya, korban mengeluh tidak punya uang untuk pergi ke salon. “Namun, tanpa diduga korban mengatakan berniat menjual diri untuk mendapatkan uang tersebut,” ujar Martha.

Koordinator Divisi Advokasi Forum Perlindungan Anak (FPA), Sri Widodo mengkhawatirkan, perdagangan manusia di Klaten menjadi fenomena gunung es. Atas dasar itu, semua pihak yang berhubungan dengan pendidikan anak diminta untuk mengawasi terhadap perkembangan fisik, sosial, maupun psikologi anak. “Fenomena yang terjadi adalah bukti masih banyak kelemahan pada sistem pengawasan anak hingga bisa menjadi korban bisnis birahi.” Menurut dia, perlu peran sinergis antara sekolah sebagai tempat pendidikan dan orang tua siswa dalam mengawasi lingkungan pergaulannya.“ Trafficking itu kejahatan yang memerlukan perhatian khusus. Harus ada koordinasi lintas sektoral untuk bisa mengetahui akar persoalannya,”ujar Widodo.

Di Cianjur, Jabar, jumlah kasus trafficking maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mencapai 548 kasus. Hal itu terungkap dalam kegiatan sosialisasi UU Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang di aula Desa Panyusuhan, Kecamatan Sukaluyu, Cianjur, kemarin. Kegiatan yang digelar DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Cianjur itu dihadiri sekitar 100 peserta berasal dari masyarakat setempat. Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan DPD KNPI Kabupaten Cianjur, Lydia Purnamasari mengatakan,modus yang biasa digunakan para pelaku trafficking yakni dengan mengiming-imingi sebuah pekerjaan dengan gaji tinggi.

“Namun pada kenyataannya, para korban ini dipekerjakan sebagai pekerja seks komersil (PSK). Malah, tak sedikit korbannya masih berusia di bawah umur,”kata Lydia,kemarin. Bahkan,beberapa waktu lalu Lydia mendapatkan informasi adanya 21 anak perempuan di bawah umur yang menjadi korban dugaan trafficking.“Saat ini sedang dalam proses pengembalian ke Cianjur. Mayoritas, para korban trafficking terbuai bujuk rayu para pelaku yang mengiming-imingi gaji tinggi dan lain sebagainya. Ditambah pula dengan dorongan orang tua dan faktor ekonomi, di mana para korban memang terdesak kebutuhan,” ungkapnya.

Dia mengaku siap melakukan pendampingan advokasi hukum terhadap para korban trafficking dan KDRT. “Kita siap lakukan advokasi kepada masyarakat. Kami pun mengharapkan, dari kegiatan ini akan berdampak semakin tahu dan bisa ikut mencegah terjadinya trafficking.” Seperti diketahui,Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur berencana memberlakukan peraturan daerah (Perda) tentang larangan perdagangan anak di bawah umur pada 2011 mendatang. Perda tersebut diharapkan bisa menekan angka trafficking yang terus meningkat di Cianjur.

Iklan
  1. vichsan a h
    November 21, 2010 pukul 12:22 am

    lha kuwi pelakune tanggaku kabeh nug,diukum wae sak abot2e menkapok sisan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: