Beranda > Update > Ditakuti, tapi Dibutuhkan

Ditakuti, tapi Dibutuhkan

Aku bergerak menyanyikan kehidupan, Informasi tentang ini harus diberikan, Bahaya dunia maju harus disingkirkan, Rasa gengsi tak perlu diteruskan, Pembangunan PLTN harap hentikan. Penggalan syair tersebut merupakan lagu milik Iwan Fals berjudul Proyek 13. Penyanyi balada Indonesia itu dengan lantang menyuarakan penolakan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Ibarat dua sisi mata uang, pembangunan PLTN selalu memiliki dua wajah kontras. Di satu sisi berwajah cantik karena adanya manfaat dari reaktor untuk pembangkitan listrik, pertanian, kesehatan, dan penelitian.

Sementara sisi lainnya berwajah buruk rupa karena kemungkinan dampak radiasinya apabila terjadi kerusakan dan kebocoran. Secara ekonomi, tidak ada yang meragukan manfaatnya bagi pasokan listrik yang demikian optimal. Meski biayanya tidak murah, bisa dikatakan PLTN dianggap paling efisien karena pembangunannya membutuhkan waktu tidak lama. Pemerintah dan kalangan ahli sepakat, Indonesia sudah memiliki kapasitas membangun PLTN sendiri baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber bahan baku uranium.

Hitung-hitungannya, dibandingkan harus membangun energi terbarukan seperti biofuel, bioetanol atau sejenisnya yang membutuhkan waktu lama dan sumber daya cukup banyak,jelas PLTN-lah yang dianggap paling murah. Namun kalangan yang kontra menganggap pembangunan PLTN hanyalah solusi instan pemerintah terhadap permasalahan krisis energi di negeri ini yang seharusnya diselesaikan secara strategis, komprehensif, dan jangka panjang.

Dari hitung-hitungan secara finansial, meski secara jangka pendek PLTN menguntungkan, biaya untuk kerusakan atau kebocorannya jauh lebih mahal. Faktor ini yang selama ini menjadi perdebatan mengapa PLTN sulit dibangun di Indonesia. Ya, faktor keamanannya masih diragukan. Apalagi pembangunan reaktor PLTN untuk pembangkitan tidak hanya butuh tingkat presisi tinggi, tetapi juga integritas moral agar dapat menghindari segala dampak dan peluang terjadinya kerusakan dan kebocoran.

Meski diakui Indonesia sudah memiliki kapasitas SDM yang mampu untuk membangun dan mengelola PLTN, hingga saat ini masyarakat belum percaya atas manfaat PLTN untuk menangani krisis energi dengan tingkat keamanan tinggi. Apalagi berdasarkan catatan Environmental Parliament Watch (EPW), terdapat sejumlah kecelakaan PLTN yang akhirnya menjadi kekhawatiran banyak pihak, termasuk di Indonesia.

Sebut saja kebocoran di Chernobyl (Ukraina saat masih tergabung di Uni Soviet), Three Miles Island (AS), dan Port Hope (Kanada) yang telah menimbulkan masalah bagi lingkungan. Karena itu, EPW mengimbau, sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia semestinya memanfaatkan sumber energi yang ramah lingkungan seperti tenaga surya, angin, panas bumi, nabati, gelombang dan arus laut,bioenergi.

Kendati begitu menurut Type Approval Indonesia, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang merupakan pemrakarsa praproyek PLTN menyatakan bahwa rencana pembangunan PLTN Jepara diperkirakan sudah memproduksi listrik pada 2016 mendatang. Sementara pembangunan fisiknya sudah harus dimulai tahun ini. Menurut Batan, untuk memulai pembangunan diperlukan sejumlah persyaratan yang tidak ringan. Terutama menyangkut kegagalan PLTN di suatu negara yang masih dianggap momok bagi PLTN secara menyeluruh.

Karena itu, faktor keamanan dan keselamatan sejak tahap perencanaan rancang bangun, konstruksi, dan pengoperasian hingga tahap decommissioning nantinya menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Pengawasan pada tahan- tahap tersebut bukan saja diawasi hanya oleh badan pengawas dalam negeri, tetapi juga menjadi peran badan pengawas tenaga nuklir internasional (IAEA).

Dengan ketatnya persyaratan pengoperasian suatu PLTN, hal ini mengisyaratkan kepada masyarakat bahwa masalah keamanan dan keselamatan pembangkit listrik berbahan bakar nuklir ini sangat terjamin. Tidak ada alasan untuk khawatir secara berlebihan. Terlebih reaktor generasi terbaru yang kini digunakan negara-negara maju jauh lebih terjamin keamanannya.

Dalam mengantisipasi krisis energi, yang saat ini pun sudah dirasakan masyarakat, terutama kalangan industri dan transportasi, mau tidak mau negeri ini harus mengerahkan berbagai potensi yang ada untuk memenuhi pasokan permintaan energi listrik yang terus meningkat, sebut Batan dalam pernyataan resminya. Selama ini untuk memasok kebutuhan tenaga listrik, Indonesia lebih banyak menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas, dan batu bara, di samping pemanfaatan tenaga air dan panas bumi.

Mahalnya harga bahan bakar minyak yang terus cenderung naik dan menipisnya cadangan sumber daya alam tentu sangat memengaruhi beban biaya produksi energi listrik yang ujung-ujungnya akan dibebankan juga kepada masyarakat konsumen. Hal ini akan berdampak luas ke berbagai sektor yang bisa memengaruhi perekonomian secara keseluruhan.

Karena itu, seperti juga di negara-negara maju,diperlukan pemanfaatan bahan bakar nuklir untuk melengkapi pembangkit-pembangkit listrik yang sudah eksis. Dengan PLTN, pasokan listrik akan aman karena ketersediaan bahan bakarnya sangat cukup untuk jangka waktu yang panjang.

Iklan
Kategori:Update
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: