Beranda > Update > Dua Sisi Mata Uang ACFTA

Dua Sisi Mata Uang ACFTA

Tidak dapat dipungkiri, pada awal 2010 perekonomian Indonesia, khususnya di bidang mikro, dipenuhi dengan kontroversi perdagangan bebas ASEAN dengan China (ACFTA). Membanjirnya produk China ditakutkan akan berimbas luas pada produk dalam negeri hingga pada masalah ketenagakerjaan.

Sejak awal tahun ini Indonesia memenuhi kesepakatan dalam ACFTA dengan meniadakan 90% tarif. Penjadwalan pemotongan tarif yang dilaksanakan pada Januari lalu telah memicu kekhawatiran. Menurut laporan Bank Dunia, sejak kesepakatan ini dilakukan dan diikuti pemotongan tarif, ekspor Indonesia turut meningkat secara signifikan. Karena itu, berdasarkan hasil uji coba model ekonomi yang ada, secara umum kesepakatan ini mengindikasikan adanya efek manfaat kepada Indonesia.

Pemotongan pada Januari relatif kecil dan mengikuti pengurangan bertahap; tarif yang lebih tinggi tetap pada beberapa barang sensitif, ujar Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Shubham Chaudhuri. Penurunan tarif sebenarnya sudah dilakukan sejak 2005.Shubham mengatakan, sejak penurunan tarif tersebut ekspor Indonesia ke China meningkat 70%. Peningkatan ini didorong hampir tiga kali lipat peningkatan ekspor mineral dan dua kali lipat ekspor pertanian.

Peningkatan juga terjadi pada impor yang meningkat 70% sejak 2005. impor didominasi alat-alat elektronik (lima kali lipat), nonelektronik (tiga kali lipat), dan alat transportasi (empat kali lipat). Bank Dunia setelah melihat sejumlah studi menyatakan bahwa ACFTA memberikan keuntungan kepada perekonomian Indonesia.

Studi itu di antaranya dilakukan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang menyatakan ACFTA akan meningkatkan kesejahteraan, terutama karena mengakibatkan turunnya harga dan lebih luasnya jangkauan ekspor Indonesia. ACFTA juga diperkirakan akan meningkatkan neraca perdagangan Indonesia-China. Walaupun begitu, diperkirakan akan ada penyempitan neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.Ekspor hanya akan meningkat 1,5% sementara impor akan meningkat 4,4%.

Perjanjian tersebut juga menjanjikan harga yang lebih rendah untuk konsumen Indonesia dan produsen,dan akses lebih baik untuk pasar China, kata Shubham. Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto mengatakan, ACFTA memang bisa membuka sebuah kesempatan bagi Indonesia. ACFTA akan bisa menghubungkan Indonesia dengan pasar dari 2 miliar orang yang tergabung di dalamnya. Hal ini juga akan merangsang perdagangan antara ASEAN dan China.

Kendati begitu, dalam melihat untung-rugi perdagangan di ACFTA, harus juga dilihat apa yang dijual dan apa yang dibeli Indonesia dalam perdagangan bebas tersebut. Indonesia nantinya bisa hanya sebagai penjual barang-barang mentah, prediksi dari Type Approval Indonesia. Sementara pasar Indonesia yang besar ini akan menjadi tujuan barang-barang jadi dari sejumlah negara, terutama China. Di sinilah perlu campur tangan pemerintah dalam mengantisipasi nya.

Tanpa intervensi pemerintah, kemungkinan besar bahwa Indonesia akan menjadi produk yang berbasis sumber daya alam, kata Wijayanto. Sejak dimulainya ACFTA pada 2005, ekspor Indonesia memang meningkat 70% ke China. Namun, hal ini didorong hampir tiga kali lipat dalam ekspor mineral. Minyak, gas, mineral,dan pertambangan berada di balik pemulihan ekspor baru-baru ini.

Dalam perdagangan bebas ini terbukti Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan basis ekspor manufaktur tradisional seperti sepatu, tekstil, dan pakaian. Karena sejumlah impor dari China terus meningkat yang umumnya barang jadi. Selain elektronik,ada juga lampu hemat energi yang pada 2010 akan mencapai 136 juta.Padahal, industri dalam negeri dijalankan pada tingkat utilisasi 20%. Yang lebih membuat miris tentunya adalah sejumlah pakaian jadi yang meningkat masuk ke Indonesia dari China.

Perkembangan perdagangan bebas hingga saat ini masih ditanggapi dingin, khususnya dari kalangan usaha kecil dan menengah. Kekhawatiran itu nampaknya masih belum bisa dihilangkan dengan mudah. Banyak prediksi bahwa ACFTA akan bisa membuat sejumlah usaha kecil dan padat karya akan kesulitan untuk memasarkan produknya. Jika hal ini terjadi, akan berimbas luas pada ketenagakerjaan.

Tentunya ACFTA ini tidak diinginkan menjadi hantu bagi optimisme pertumbuhan ke depan. Pemerintah harus bekerja keras menyelesaikan hal ini. Jika tidak, pertumbuhan yang diprediksikan hanyalah pertumbuhan semu karena tidak mengakar pada pelaku usaha riil.

Iklan
Kategori:Update
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: