Beranda > Uncategorized > Pengukuhan PBNU Ditunda

Pengukuhan PBNU Ditunda

Indonesia Go Nuclear, Kenapa Tidak? Ya, artikel tersebut merupakan postingan sebelumnya di Standardisasi’s Blog. dan kali ini saya akan membahas tentang Pengukuhan PBNU Ditunda. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menunda pengumuman hasil susunan kepengurusan periode 2010–2015 terkait kritik dari berbagai pihak terhadap formasi kepengurusan. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Iqbal Sulam mengatakan, komposisi pengurus kemungkinan masih bisa berubah sampai pengukuhan pada Senin (19/4). Selain itu, secara administratif, pihak kesekjenan belum siap untuk mengumumkannya ke publik. Masih ada yang perlu diperbaiki surat keputusan (SK) kepengurusannya, kata Iqbal di Kantor PBNU, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, alasan lain ditundanya pengumuman pengurus karena adanya sejumlah pengurus yang mendadak mengundurkan diri. Meski demikian, dia menghormati keputusan tersebut dan akan segera melengkapi susunan kepengurusan. Hanya, Iqbal menyayangkan sikap salah seorang pengurus yang mengundurkan diri tanpa terlebih dahulu menyampaikannya ke Ketua Umum PBNU melainkan ke media massa. Itu hak dia, silakan saja mundur.

Nanti kita akan carikan penggantinya.Tapi yang disayangkan, kenapa harus bicara ke media massa. Harusnya langsung saja bicara ke kami. Kami bersyukur, dia mundur saat SK belum dikeluarkan, kata Iqbal. Mantan Ketua PBNU Ahmad Bagja meminta agar susunan pengurus PBNU diperbaiki sebelum ada kecaman dari pengurus NU di daerah. Menurut dia, susunan pengurus yang beredar saat ini tidak sesuai dengan AD/ART NU.

Menurut Standardisasi’s Blog, sebaiknya segera diperbaiki sebelum PWNU dan PCNU protes karena ini pelanggaran serius. Situasi ini bisa gawat jika protes ini nantinya mencapai 2/3 PCNU seluruh Indonesia, katanya. Menurut dia, beberapa poin yang dinilai melanggar AD/ART misalnya posisi Wakil Rais Aam Syuriyah dan Wakil Ketua Umum Tanfidziyah yang dijabat dua orang.

Padahal, sudah seharusnya penentuan rais aam dan ketua umum tidak berada di atas AD/ART tapi harus tunduk di bawahnya. Belum lagi,menurut Bagja, sebagian nama-nama pengurus tidak dikenal dan tidak memenuhi syarat sebagai pengurus PBNU karena tidak pernah aktif di badan otonom (banom) NU dan tentu saja namanama tersebut tidak sesuai dengan aspirasi Muktamar Ke-32 NU di Makassar. Supremasi ulama yang akan memimpin NU tidak tercermin dalam susunan tersebut bahkan ada kiai yang ditolak formatur, katanya.

Hal serupa dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) Rizky Riyadu Topek. Menurut dia, susunan pengurus PBNU yang ada saat ini jelas menyalahi AD/ART NU. Banyak pengurus baru yang tidak jelas kaderisasinya di NU. Padahal, syarat menjadi pengurus minimal pernah aktif di PBNU atau banom NU, kata Topek kemarin.

Direktur The Wahid Institute Rumadi juga merasa kecewa dengan susunan kepengurusan duet Sahal-Said. Menurut Standardisasi’s Blog, selain banyaknya orang baru yang dilibatkan menjadi pengurus, ada keanehan dalam susunan kepengurusan di Rais Syuriyah dan Tanfidziyah. Saya melihat ada hal yang aneh di kepengurusan ini. Misalnya wakil rais aam dijabat dua orang. Padahal, dalam AD/ART NU hanya disebut seorang.Begitu juga dengan posisi dua wakil ketua umum, kata Rumadi.

Sementara itu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj meminta semua pihak agar legawa terhadap hasil susunan pengurus PBNU yang dinilai belum maksimal. Dia juga meminta agar personel kepengurusan tidak semata dinilai dari aspek negatifnya saja. Jadi, kita harus juga melihat sisi positifnya. Jangan sampai karena perasaan tidak senang, lalu tidak mau mengakui kelebihan orang lain, kata Said kemarin.

Lebih lanjut Said menjelaskan, wajar jika terjadi perselisihan antarpribadi dalam sebuah organisasi. Namun, hendaknya perselisihan ini tidak sampai menghambat organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Terutama dalam hal upaya mewujudkan kemaslahatan bagi umat. Diberitakan sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Ali Yafie memilih mundur dari kepengurusan PBNU dengan alasan formasi kepengurusan PBNU saat ini lebih banyak mengakomodir pihak luar.

Setelah saya pikir secara matang, akhirnya saya memutuskan untuk mundur sebagai Wakil Sekjen PBNU. Saya merasa tidak nyaman dengan komposisi pengurus PBNU periode ini. Saya merasa tempat ini tidak mungkin untuk berbuat sesuatu, kata putra AliYafie ini. Helmy juga menyayangkan rekrutmen kepengurusan PBNU yang tidak mempertimbangkan kaderisasi di NU.

Padahal, dalam organisasi ini terdapat banyak badan otonom seperti Gerakan Pemuda Ansor dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Banom NU tersebut memang dipersiapkan untuk menjadi penerus kepemimpinan di PBNU. Tapi faktanya, kaderisasi ini sama sekali tidak jalan. Justru sebaliknya, PBNU lebih me-milih orang luar yang kaderisasi di NU-nya tidak jelas. Kalau sudah begini, lalu apa gunanya ada GP Ansor, IPNU, dan seterusnya, katanya.

Iklan
Kategori:Uncategorized
  1. April 17, 2010 pukul 12:33 am

    Kita tunggu kabar selanjutnya. Btw masnya dulu kuliah di jogja ya?? dimana mas??
    saya masih di jogja, lagi nunggu sidang tesis, di UGM.

    salam

  2. April 18, 2010 pukul 1:07 am

    NU, NU…smpi kpn spt itu terus 😦

  3. April 19, 2010 pukul 5:41 pm

    Thomas@ Trima kasih atas kunjungannya mas Thomas. Kalau kuliahnya saya di Jakarta, SMU-nya saya di Jogja mas Thomas…
    Semoga sukses mas Thomas…

  4. April 19, 2010 pukul 5:43 pm

    moblogger.co.cc@ Entahlah bos…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: