Beranda > Artikel > Etos Pendidikan Entrepreneurship

Etos Pendidikan Entrepreneurship

Sekedar mengingatkan saja bahwa pada postingan sebelumnya di blog Standardisasi membahas tentang KPK Panggil Boediono dan Sri Mulyani. Dan kali ini saya akan membahas tentang Etos Pendidikan Entrepreneurship. Tujuan dari pendidikan adalah memanusiakan manusia. Di dalam tujuannya terdapat proses dialogis yang membebaskan. Tidak ada kata penyeragaman dalam tataran praksisnya.

Sehingga, ketika kita dihadapkan persoalan hidup,kita mampu menyelesaikannya dengan cermat. Tetapi hal yang seperti itu sudah mulai tercabut dari sistem pendidikan di Indonesia. Metode bagi para peserta didik dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi masih terpaku pada metode hafalan bukan metode hadap masalah. Sehingga mereka tidak sempat berpikir di luar hal tersebut yang menyangkut langsung ke dalam kehidupan nyatanya.

Akibatnya banyak dari mereka yang gagap dalam menjawab persoalan hidup. Hal ini tentu menjadi bahaya besar bila terjadi pada kalangan terdidik, sumber daya manusia yang seharusnya mampu menjadi roda penggerak kemajuan bangsa. Berdasarkan data yang dirilis oleh Survei Angkatan Kerja Nasional 2009, tahun lalu saja angka pengangguran terdidik menembus 1 juta orang.

Mengingat bahwa sistem pendidikan yang jamak dilakukan di perguruan tinggi hingga kini masih tetap sama seperti tahun lalu. Maka tidak menutup kemungkinan angka tersebut akan mengalami kenaikan pada tahun ini.Kurikulum entrepreneurship yang digadang-gadang bakal ampuh menjawab persoalan hidup nampaknya tidak memberikan dampak yang berarti. Pasalnya konsep pendidikan entrepreneurshipdi kebanyakan perguruan tinggi hanya sebatas pada sistem kredit semester (SKS).

Dengan dua atau empat SKS mahasiswa dianggap sudah mampu ber-entrepreneur. Menyempitkan entrepreneurship dalam sebuah muatan materi tentu hal yang salah. Padahal bila ditelisik lebih jauh entreperenuership adalah bukan kata tanpa makna apalagi sebatas materi. Entreperenuership adalah etos. Semangat tak kenal lelah dalam menjawab persoalan hidup yang mendatangkan kemakmuran bagi dirinya dan orang lain.

Keberhasilan pendidikan entreperenuershiptidak diukur oleh banyaknya mahasiswa yang telah lulus SKS tetapi lebih diukur dari dampaknya terhadap sosial-ekonomi dari usaha yang dilakukan. Isu tersebut kemudian dapat diperluas dengan banyaknya lapangan kerja, jumlah tenaga kerja yang bisa terserap, serta potensinya bagi pertumbuhan ekonomi negara. Yang terpenting sumber daya alam yang selama ini dikelola oleh pihak asing harus dikelola secara mandiri.

Penduduk lokal harus diberdayakan,dikuatkan dalam hal kependidikannya. Dus, pendidikan yang memerdekakan dan mengasah kemampuan peserta didik untuk menemukan atau bahkan menciptakan peluang di sekitarnya itulah real entrepreneur. Karena seorang entrepreneur harus mampu melihat permasalahan di masyarakat.

Artinya harus mempunyai pemikiran kritis dan daya eksplorasi terhadap lingkungan sekitar, menurut Standardisasi. Karena memang sistem pendidikan haruslah seperti ini. Mengutamakan kemampuan peserta didik dalam memaknai dan menggunakan pengetahuan walaupun sesederhana apa pun pengetahuan itu.

Iklan
  1. Mei 1, 2010 pukul 8:06 am

    seharusnya enterpreneurship sudah harus diberikan sejak dini baik di lingkungan keluarga ataupun dalam pendidikan formal, namun sayang pendidikan formal di Indonesia masih berorientasi pada nilai dan ranking, bukan pada Proses “berusaha” dan pengembangan skill, karena itulah sekarang banyak yg mengutamakan hidup harus kerja keras bukan bekerja cerdas…
    salam knal.. mas.. minta ijin tuker link ya.. saya masih newbie ni…
    terimakasih, jangan lupa mampir ke junior ini..

  2. Mei 2, 2010 pukul 8:17 pm

    Saya setuju dengan pendapat mas Yunandha, salam kenal juga, Silahkan mas, saya pasang duluan linknya, saya tunggu link baliknya…

  3. Mei 19, 2010 pukul 4:19 am

    Karena merupakan etos, entrepreneurship seharusnya terinternalisasi menjadi nilai dan karakter, khususnya bagi para pendidik. Agar yang didik pun bisa ketularan olehnya. Kalau pendidiknya aja gak punya etos itu, gimana yang didik coba.

  4. Mei 20, 2010 pukul 5:05 am

    Bisa-bisa tidak karu-karuan nantinya, hehehehe…
    Makasih atas kunjungannya bos…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: