Beranda > Keluarga > Jauhkan Anak dari Cyberbullying

Jauhkan Anak dari Cyberbullying

Menurut Belajar HTML bahwa TIDAK hanya kekerasan fisik, anak yang menjadi korban cyberbullying bakal mendapatkan permasalahan mental dan sosial. Nah, bagaimana menghadapi serangan ini? Seiring dengan kemajuan teknologi, penggunaan internet dan jejaring sosial semakin luas di kalangan masyarakat. Banyak keluarga telah menggunakan jasa langganan internet, sehingga di dalam rumah, anggota keluarga dapat mudah mengaksesnya. Begitu juga dengan kehadiran telepon seluler yang memungkinkan seseorang dapat mengakses dunia maya kapan saja dan dari mana saja.

Namun seperti dua sisi mata uang menurut Type Approval Indonesia, internet dapat memberikan manfaat positif, tetapi juga dapat berdampak negatif. Seorang anak yang menggunakan internet sering kali menjadi sasaran empuk dari orang-orang yang berniat jahat maupun pornografi. Salah satu kekhawatiran lain adalah terjadinya cyberbullying, yaitu tindakan kekerasan atau penindasan kepada anak di dunia maya.

Penelitian terbaru menunjukkan begitu besarnya prevalensi, dampak dan konsekuensi dari cyberbullying serta beberapa karakteristik emosional dan fisik dari korban-korbannya. Pelaku ataupun korban ternyata sama-sama mengalami sejumlah masalah fisik dan mental ke depannya. Penelitian ini dipublikasikan dalam edisi Juli di jurnal Archives of General Psychiatry.

Cyberbullying termasuk fenomena yang relatif baru menyusul tren media komunikasi yang makin modern. Cyberbullying didefinisikan sebagai ”sebuah tindakan agresif yang disengaja dilakukan oleh kelompok atau individu dengan menggunakan sarana teknologi komunikasi dan media elektronik berulang kali dan sepanjang waktu terhadap korban yang tidak dapat dengan mudah membela dirinya sendiri.”

Peningkatan kasus cyberbullying merupakan dampak negatif dari meningkatnya penggunaan komputer, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya oleh anak-anak. Tidak seperti bullying tradisional, yang sebagian besar bergantung pada ancaman fisik, rumor, dan penolakan, cyberbullying dapat menjangkau korban yang lebih luas melalui media sosial dan teknologi di mana pun, sehingga korban sulit untuk melarikan diri dari para pengganggu tersebut.

Bahkan, pelaku bullying juga dapat melakukannya relatif secara anonim atau tidak diketahui keberadaannya. Studi baru ini mengikutsertakan sekitar 2.215 remaja Finlandia berusia 13 sampai 16 tahun. Secara keseluruhan, sebanyak 4,8 persen dari mereka mengaku merupakan korban cyberbullying, 7,4 persen pelaku cyberbullying, dan 5,4 persen di antaranya merupakan pelaku sekaligus korban.

Hasil studi menunjukkan sebagian besar cyberbullying dilakukan melalui pesan instan di komputer melalui jejaring sosial dan diskusi kelompok di sebuah forum. Jenis cyberbullies biasanya berupa pelecehan oleh teman sebaya di usia yang sama. Sekitar 16 persen dari remaja perempuan yang disurvei mengatakan mereka diintimidasi oleh remaja pria, sedangkan hanya 5 persen dari remaja pria mengaku mendapat kekerasan melalui dunia maya oleh remaja perempuan.

Korban cyberbullying melaporkan mengalami perilaku, emosional tak menentu, susah konsentrasi, serta masalah bergaul dengan teman-temannya seusai kejadian cyberbullying. Para korban juga mengaku lebih sering menderita sakit kepala, nyeri perut berulang, dan sulit tidur. Bahkan, satu dari empat orang merasa tidak aman di sekolah.

Terlebih lagi, remaja yang menjadi korban cyberbullying jarang yang tinggal dengan kedua orang tua biologis. Mereka juga cenderung menjadi hiperaktif, penyalahgunaan alkohol, dan merokok. Baik remaja pelaku maupun korban cyberbullying melaporkan semua masalah kesehatan fisik dan mental tersebut.

”Para pembuat kebijakan seperti pendidik, orang tua, dan remaja itu sendiri harus menyadari efek berpotensi berbahaya dari cyberbullying,” kata para peneliti yang dipimpin Andre Sourander MD PhD, seorang psikiater anak di Universitas Turku, Finlandia. ”Masa depan penelitian ini diperlukan untuk merumuskan kebijakan terkait anti-bullying serta pedoman penggunaan telepon seluler dan internet yang efektif untuk mengurangi cyberbullying,” tambah kesimpulan studi tersebut.

Parry Aftab, direktur eksekutif sebuah situs penjaga keamanan online wiredsafety.org, serta situs pendidikan yang merupakan kelompok orang tua untuk amal yang disebut stopcyberbullying.org yang berbasis di Fort Lee, New Jersey, Amerika Serikat memberi komentar. Dia mengaku khawatir dengan keamanan dunia maya bagi anak-anak.

”Cyberbullying adalah ketika sebuah teknologi dapat menjadi senjata untuk menyakiti yang lain,” katanya.

Kegiatan cyberbullying bisa terjadi dalam berbagai bentuk seperti mencuri password akun anak lain atau mengambil poin dalam game online. Atau bisa jadi mengubah secara digital foto seorang anak sehingga seolah-olah tanpa busana, lalu mengedarkannya ke jaringan internet.

”Ada jutaan cara yang berbeda untuk (cyberbullying). Itu hanya dibatasi oleh bandwidth internet dan kreativitas anak-anak,” tambah Aftab. Cyberbullying seperti mengubah peta taman bermain atau struktur sosial khas yang biasa terjadi di sekolah. ”Hal ini membawa seluruh anak dari berbagai jenis dan latar belakang sosial menjadi masalah,” ujarnya.

”Anak yang menjadi korban cyberbullies bisa juga jadi pengganggu online karena permasalahan ini tidak bergantung jenis dan sifat anak. Bahkan, saya mendapati anak-anak yang pendiam, kaku, dianggap aneh, memiliki keterbelakangan dan antisosial malah terlibat, padahal biasanya mereka yang diintimidasi,” lanjutnya.

Menurut Aftab, tidak ada tempat yang aman untuk melarikan diri dari cyberbullying. Jika seorang anak diintimidasi di sekolah misalnya, rumah dipastikan sering tempat yang aman. Namun, dewasa ini remaja selalu terhubung dengan teknologi di mana pun dan kapan pun selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. ”Cyberbullying memiliki konsekuensi yang merusak anak dan orang tua harus memahami bahwa sebagian besar anak-anak telah di-cyberbullied minimal sekali dalam hidupnya,” terangnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus diperbuat korban cyberbullying. ”Berhenti, blokir, dan segera bicarakan kejadian ini,” kata Aftab. ”Jangan membalas. Pesan diamkan saja, lalu beri tahu orang dewasa yang dipercaya,” katanya. Tips lain adalah menggunakan password yang tidak mudah ditebak serta mengubahnya setiap kali mematikan komputer untuk mencegah hacker.

Orang tua dari anak-anak yang menjadi korban cyberbullying harus bersikap tenang sebelum bereaksi berlebihan dan membuat hal-hal yang lebih buruk. Psikoanalis anak Leon Hoffman MD, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Bernard L Pacella Parent Child Center di New York City, Amerika Serikat, setuju dengan saran Aftab.

”Penelitian ini menekankan pentingnya membuat kebijakan yang tegas bahwa orang tua harus bersemangat menegakkan aturan kepada anak-anaknya,” menurut grandong.

Kategori:Keluarga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: