Beranda > Syariah > Ekonomi Syariah Masih Potensial

Ekonomi Syariah Masih Potensial

INDONESIA sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar berpotensi untuk mengembangkan dan mengeksplorasi ekonomi syariah agar dapat menjadi yang terdepan. Apalagi,saat ini ekonomi syariah telah mulai menggeliat, baik di Indonesia maupun dunia sehingga membuat adanya perubahan arah ekonomi. Salah satu indikasinya terlihat dari aset industri perbankan syariah yang terus mengalami pertumbuhan di tengah krisis yang terus bergejolak. Menurut pengamat bank syariah M Nadratuzzaman Hosen, idealnya sistem pembiayaan modal kerja syariah adalah mempergunakan konsep mudharabah. Konsep ini merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak dengan ketentuan pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal,sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola dan keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.

Konsep ini ideal karena masyarakat dapat memulai usaha tanpa perlu memiliki modal kerja.Tentunya hal itu akan meningkatkan jumlah masyarakat yang hendak memulai berusaha.Hanya,sayangnya, bank cenderung menghindari konsep ini dengan alasan manajemen risiko. ”Hal ini bisa dipahami karena dalam konsep ini bank tidak ikut serta dalam manajemen usaha yang dimodalinya,”tuturnya saat dihubungi harian Seputar Indonesia. Pada saat ini bank lebih suka mengenakan konsep murabahah.

Sebuah sistem yang mana jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati dengan ketentuan penjual harus memberi tahu harga produk yang dibeli dan menentukan suatu tingkat keuntungan (margin) sebagai tambahannya.Namun,di sisi lain masyarakat kurang begitu menyukai konsep ini karena dianggap mengurangi daya saing produk atau barang yang dihasilkan. Konsep musyarakah bisa menjadi jembatan bagi kepentingan nasabah dan bank. Konsep ini mempergunakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dan masingmasing pihak memberikan kontribusi dana dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Musyarakah dapat berbentuk pembiayaan proyek, yaitu pelaku usaha dan Lembaga Keuangan Syariah (selaku pemodal) sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut.Setelah proyek selesai, nasabah mengembalikan dana yang digunakan beserta bagi hasil yang telah disepakati di awal perjanjian (ijab-kabul). Bisa juga modal ventura, yakni penanaman modal dilakukan oleh lembaga keuangan syariah untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu lembaga keuangan tersebut melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya kepada pemegang saham perusahaan. Berbagai sektor usaha selain yang berbau haram bisa diberikan modal kerja syariah.

Namun, kecenderungannya, bank-bank syariah memberikan pembiayaan modal kerja syariah ke sektor usaha pertanian, pertambangan, dan telekomunikasi. ”Bank syariah sebaiknya mulai masuk ke usaha pertanian saat dalam proses pemeliharaan. Sementara sektor pertambangan pada saat sudah mulai eksploitasi,”tuturnya.

Kategori:Syariah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: