Beranda > News > WikiLeaks

WikiLeaks

WikiLeaks kembali membocorkan memo diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS). Kali ini, kedutaan AS di Panama itu menyebut bahwa Badan Pemberantasan Narkotika Amerika Serikat (DEA) digunakan sebagai alat intelijen.

Seperti dilansir dari laman The Age, Senin, 27 Desember 2010, bocoran itu tertuang dalam memo diplomatik Kedutaan Besar AS di Panama tertanggal 22 Agustus 2009.

Duta Besar AS untuk Panama Stephenson kala itu, mengatakan Presiden Panama Ricardo Martinelli yang baru saja terpilih memerintahkan DEA untuk melakukan pengintaian menggunakan program penyadapan telepon kepada lawan politiknya dari sayap kiri.

DEA telah melampaui wewenangnya dengan melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan aktivitas perdagangan narkoba. DEA yang memiliki kantor di seluruh dunia kini digunakan sebagai alat bagi tokoh politik untuk mengintai musuh.

DEA telah digunakan sebagai alat intelijen oleh pemimpin negara itu. Martinelli mengatakan bahwa tokoh politik kiri yang tidak disebutkan itu telah berencana membunuhnya. “Saya butuh bantuan untuk menyadap telepon,” ujar Stephenson menirukan Martinelli.

Pada memo dikatakan bahwa Martinelli tidak dapat membedakan antara tersangka yang menjadi target DEA dan lawan politiknya. Memo mengatakan bahwa Martinelli adalah seorang presiden yang senang menggertak dan memeras. Dia mengancam akan menghentikan kerja sama antara DEA dengan polisi anti Narkoba Panama jika permintaannya tidak dipenuhi.

DEA saat ini memiliki 87 kantor di 63 negara dan mempunyai hubungan dekat dengan pemerintahan yang bekerja sama dengan CIA. Meningkatnya penjualan Narkoba akhir-akhir ini membuat DEA membuka akses dengan negara-negara yang memiliki ketegangan dengan AS. Kebanyakan negara-negara ini hanya ingin menggunakan teknologi deteksi narkoba dan penyadapan telepon.

Memo mengatakan bahwa banyak informan dan agen DEA terbunuh di Mexico dan Afghanistan. Memo juga mengungkapkan beberapa kasus yang menyangkut DEA dan aktivitas pemberantasan narkobanya di seluruh dunia. Di Sierra Leone, pengadilan kasus perdagangan narkoba hampir menjadi kacau saat jaksa meminta suap sebesar US$2,5 juta.

Di Papua Nugini, tulis memo itu, pedagang narkoba terbesar justru adalah putra dari mantan Presiden Lansana Conte, Ousmane Conte. Ketika polisi menggerebek lokasi penyimpanan narkoba tersebut, entah bagaimana obat bius yang diduga terdapat di tempat itu berubah menjadi tepung. Demikian catatan online Blog Info tentang WikiLeaks.

Kategori:News
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: